Minggu, 22 September 2013

Sosialisasi Disiplin Guru dan Karyawan SMP Negeri 4 Adiwerna

Disiplin Tertib Antri Bersalaman

A. Pengertian:
           1.       PNS: terdiri dari PNS Pusat dan PNS Daerah.
  1. Pelanggaran Disiplin: setiap ucapan, tulisan/perbuatan PNS tidak menaati kewajiban &/melanggar larangan didalam maupun di luar jam kerja.
  2. Disiplin PNS: kesanggupan PNS menaati kewajiban & menghindari larangan Per-Undang-undang atau Peraturan Kedinasan, jika dilanggar dijatuhi hukuman disiplin.
B. Pelanggaran Disiplin
  1. Peraturan Disiplin => PP 53 th. 2010
  2. Peraturan Perkawinan/Perceraian => PP 10 th. 1983
  3. Larangan PNS menjadi Anggota Parpol => PP 37 th. 2004
C. Materi Peraturan Disiplin PNS
           1.       Kewajiban PNS ;
           2.       Larangan PNS ;
           3.       Sanksi hukuman disiplin ;
           4.       Pejabat yang berwenang menghukum ;
           5.       Tatacara penjatuhan hukuman disiplin ;
           6.       Upaya administratif atas hukuman disiplin.

D. Tingkat Dan Jenis Hukuman Disiplin  (Pasal 7)
1. Jenis hukuman disiplin tingkat ringan :
  1. tegoran lisan;
  2. tegoran tertulis; dan
  3. pernyataan tidak puas secara tertulis.
2. Jenis hukuman disiplin tingkat sedang :
  1. penundaan kenaikan gaji berkala untuk selama 1 (satu) tahun;
  2. penundaan kenaikan pangkat untuk selama 1 (satu) tahun ;
  3. penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun.
3. Jenis hukuman disiplin tingkat berat :
  1. penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun;
  2. Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah ;
  3. pembebasan dari jabatan;
  4. pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS;
  5. pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.

E. Kewajiban PNS Berdasarkan PP No. 53 Tahun 2010
          1.       mengucapkan sumpah/janji PNS;
          2.       mengucapkan sumpah/janji jabatan
          3.       setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Pemerintah
          4.       menaati segala ketentuan peraturan perundang-­undangan
          5.  melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab
         6.       menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat PNS
         7.       mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri, seseorang, dan/atau golongan
         8.       memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus dirahasiakan
         9.       bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan negara    
      10.    melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan, keuangan, dan materiil.
       11.    masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja
       12.    mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan
       13.    menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaik-baiknya
       14.    memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat
       15.    membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas
       16.    memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier
       17.    menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang

F. Larangan PNS Berdasarkan PP No. 53 Tahun 2010
        1.       menyalahgunakan wewenang     
     2.   menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain dengan menggunakan kewenangan orang lain
        3.       tanpa izin Pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain/organisasi internasional
        4.       bekerja pada perusahaan asing, konsultan asing, atau LSM asing
       5.  memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau meminjamkan barang bergerak atau tidak bergerak, dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah
       6.       melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman sejawat, bawahan, atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan Negara
       7.   memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun dengan dalih apapun untuk diangkat dalam jabatan
      8.       menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaannya
       9.       bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya
     10.    melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan yang dapat menghalangi atau mempersulit pihak yang dilayani sehingga mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani
      11.    menghalangi berjalannya tugas kedinasan
     12.    Memberikan dukungan kepada calon Presiden/ apres, DPR, DPD, atau DPRD dengan cara :a) ikut serta sebagai pelaksana kampanye; b) menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut PNS; c) sebagai peserta kampanye mengerahkan PNS lain, d) sebagai peserta kampanye menggunakan fasilitas Negara,
    13.    memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden dengan cara: a) membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; dan/atau, b) mengadakan kegiatan yang mengarah keberpihakan terhadap pasangan calon peserta pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan kerjanya, keluarga, dan masyarakat
      14.    memberikan dukungan kepada calon anggota DPD atau calon KDh/Wakil KDh dengan memberikan surat dukungan disertai fotokopi KTP atau Surat Keterangan Tanda Penduduk sesuai peraturan per-UU
     15.   memberikan dukungan kepada calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, dengan cara : a) terlibat dalam kegiatan kampanye Pilkada, b) menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam kegiatan kampanye Pilkada ; c) membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; dan/atau, d) mengadakan kegiatan yang mengarah keberpihakan terhadap pasangan peserta pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan kerjanya, keluarga, dan masyarakat,

G. Pejabat Yang Berwenang Menghukum (Pasal 15 - 20)
       1.   Presiden à Hukuman Disiplin tingkat berat, bagi pejabat eselon I dan pejabat lain yang pengangkatannya wewenang Presiden
       2.       Pejabat Pembina Kepegawaian à Hukuman Disiplin tingkat berat/sedang terberat
       3.       Semua pejabat struktural eselon I, II, III, IV, V à Hukuman Disiplin tingkat ringan dan sedang
       4.      Pejabat yang disetarakan pejabat struktural  (Ketua Pengadilan, Rektor, Kepala Sekolah, dll)

H. Sanksi Hukuman Disiplin Tidak Masuk Kerja
1. Hukuman Ringan (Pasal 8 angka 11)
          a.       tidak masuk 5 hari kerja à  teguran lisan;
          b.       tidak masuk 6 - 10 hari kerja à teguran tertulis;
          c.        tidak masuk 11 - 15 hari kerja à pernyatan tidak puas secara tertulis.

2. Hukuman Sedang (Pasal 9 angka 11)
         a.       tidak masuk 6 - 20 hari kerja à penundaan kenaikan gaji berkala;
         b.       tidak masuk 21 - 25 hari kerja à penundaan kenaikan pangkat 1 (satu) tahun;  
         c.        tidak masuk 26 - 30 hari kerja à penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun.

3. Hukuman Berat (Pasal 10 angka 11)
         a.       tidak masuk 31 - 35 hari kerja à penurunan pangkat 3 (tiga) tahun ;
         b.       tidak masuk 36 - 40 hari kerja à pemindahan dalam rangka penurunan jabatan ;
         c.        tidak masuk 41 - 45 hari kerja à pembebasan dari jabatan;
         d.     tidak masuk 46 hari kerja atau lebih à  pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.

I. Kewajiban Pejabat Yang Berwenang  Menghukum (Pasal 21)
  1. Pejabat yang berwenang menghukum wajib menjatuhkan hukuman disiplin kepada bawahannya yang melanggar disiplin.
  2. Apabila tidak menjatuhkan hukuman disiplin, maka pejabat tersebut dijatuhi hukuman disiplin oleh atasannya.
  3. Hukuman yang dijatuhkan adalah sama dengan yang seharusnya dia jatuhkan kepada bawahannya.
J. Peraturan Perkawinan/Perceraian
1. Izin Perkawinan & Perceraian Bagi PNS berdasarkan  PP 10 / 1983 jo PP 45/1990 yang mengatur beberapa hal:
        a.       Izin Perkawinan PNS
        b.       Izin Perceraian PNS.
        c.        PNS Pria Beristri Lebih Dari satu
        d.       PNS wanita dilarang menjadi Isteri  Ke-2, 3, 4, dst.
        e.       Prosedur Perizinan.
        f.         Pembagian Penghasilan Setelah Cerai
        g.       Syarat Cerai
        h.       Sanksi

2. hukuman disiplin tingkat berat :
        a.       PNS/janda/duda tidak melaporkan perkawinan kepada Pejabat yang berwenang dalam waktu 1 tahun.
        b.       PNS melakukan perceraian tanpa izin Pejabat yang berwenang
        c.        PNS pria beristri lebih dari satu tanpa izin Pejabat yang berwenang
       d.       PNS hidup bersama tanpa ikatan perkawinan sah.
       e.       PNS pria menolak pembagian gaji setelah perceraian
        f.         PNS setelah resmi bercerai tidak melaporkan
       g.       Atasan tidak memproses permohonan izin cerai /izin kawin lagi sesuai ketentuan.
       h.       Pejabat yang tidak memutuskan izin cerai/izin kawin lagi sesuai ketentuan.
       i.         PNS wanita menjadi istri ke-2, 3, 4, dst

K. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004  Tentang Larangan Pegawai Negeri Sipil Menjadi Anggota Partai Politik
      1.   Larangan PNS menjadi anggota atau pengurus Partai Politik (Pasal 2): (1) Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik. (2) Pegawai Negeri Sipil yang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik diberhentikan sebagai segawai Negeri Sipil.
     2.  Kewajiban Mengundurkan Diri (Pasal 3): (1) Pegawai Negeri Sipil yang akan menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik wajib mengundurkandiri sebagai Pegawai Negeri Sipil.
     3.  Sanksi (Pasal 9): (1) Pegawai Negeri Sipil yang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik tanpa mengundurkan diri sebagai Pegawai Negeri Sipil, diberhentikan tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Pelaksanaan Sosialisasi: Rabu, 18 September 2013
Penulis: Semiyanto

Sumber
Sosialisasi PP No 53 th 2010 oleh BKD Pemda Kabupaten Tegal, di Slawi tanggal 26 Juni 2013.
PP 53 th. 2010, PP 10 th. 1983, dan PP 37 th. 2004

0 komentar :

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar / respon anda di sini :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...